Senin, 19 Desember 2016

TEKNIK-TEKNIK PEMBELAJARAN



TEKNIK-TEKNIK PEMBELAJARAN


1.    STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI
            Metode inkuiri adalah cara untuk menyampaikan sesuatu agar tercapai tujuan, cara melaksanakan, cara menyelidiki, taktik, siasat (Poerwadarminto, 1976). Metode Inkuiri adalah menanyakan, meminta keterangan atau menyelidiki, penyelidikan (Soedanyo, 1990). Metode Inkuiri dalam bahasa Inggris “Inquiri”, berarti pertanyaan,pemeriksaan, atau penyelidikan (Gulo, 2002). Metode inkuiri adalah suatu pola untuk membantu para siswa belajar merumuskan dan menguji pendapatnya sendiri dan memiliki kesadaran akan kemampuannya. (Suchman ,1996). Metode inkuiri adalah strategi mengajar yang memungkinkan para siswa mendapatkan jawabannya sendiri. (Jones, 1997)
Metode inkuiri adalah suatu metode yang menekankan pengalaman-pengalaman belajar yang mendorong siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip (Widja, 1985). Metode inkuiri adalah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru (Sumantri,1998). Metode inkuiri adalah merupakan proses belajar yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menguji dan menafsirkan problema secara sistematika yang memberikan konklusi berdasarkan pembuktian. (Nasution 1992 : 128). Metode inkuiri merupakan perluasan metode discovery yang artinya suatu proses mental yang lebih tinggi tingkatannya misalnya merumuskan problema, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan membuat kesimpulan (Sri Anitah , 2001:4)
Pada hakikatnya, strategi pembelajaran inkuiri adalah metode pembelajaran dimana pengajar mengajak peserta didiknya untuk berpikir aktif dan belajar menggembangkan pendapatnya sendiri untuk menghadapi suatu masalah dengan sikap ilmiah.
Cara pengembangan strategi ini yaitu dengan membuat beberapa kelompok kecil dari para peserta didik dan disetiap kelompok tersebut dipilih salah satu peserta didik yang dapat mewakili pengajar untuk memberikan sedikit pengertian tentang teori yang akan dikaji. Peserta didik yang mewakili pengajar tersebut bertugas untuk memberikan pertanyaan yang dapat merangsang peserta didik lain untuk mengembangkan pendapatnya sendiri tentang suatu teori tersebut. Diharapkan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, para peserta didik tidak hanya memberi jawaban iya atau tidak, melainkan jawaban perbandingan dari teori yang sudah ada dengan pendapat dari peserta didik itu sendiri. Sehingga dengan perbandingan tersebut para peserta didik dapat menemukan pemahamannya tersendiri tentang teori yang sedang dibahas dengan pemahaman yang lebih efektif dan terarah.
Laughlin dan Moulton dalam Hasibuan mendefinisikan microteaching (pengajaran mikro) adalah sebuah metode latihan penampilan yang dirancang secara jelas dengan jalan mengisolasi bagian-bagian komponen dari proses mengajar, sehingga guru (calon guru) dapat menguasasi setiap komponen satu persatu dalam situasi mengajar yang disederhanakan. Sukirman mengatakan micro teaching adalah sebuah pembelajaran dengan salah satu pendekatan atau cara untuk melatih penampilan mengajar yang dilakukan secara “micro” atau disederhanakan. Penyederhanaan disini terkait dengan setiap komponen pembelajaran, misalnya dari segi waktu, materi, jumlah siswa, jenis keterampilan dasar mengajar yang dilatihkan, penggunaan metode dan media pembelajaran dan unsur-unsur pembelajaran lainnya. Selanjutnya Hamalik mengatakan pengajaran mikro merupakan teknik baru dan menjadi bagian dalam pembaruan. Penggunaan pengajaran mikro dalam rangka mengembangkan keterampilan mengajar calon guru atau sebagai usaha peningkatan, adalah suatu cara baru terutama dalam sistem pendidikan guru di negera kita. Sedangkan Sardiman mengatakan microteaching adalah meningkatkan performance yang menyangkut keterampilan dalam mengajar atau latihan mengelola interaksi belajar mengajar.
Memahami dua pendapat ini pengajaran mikro pada dasarnya merupakan suatu metode pembelajaran berdasarkan performa yang tekniknya dilakukan dengan cara melatihkan komponen-komponen kompetensi dasar mengajar dalam proses pembelajaran, sehingga calon guru benar-benar mampu menguasai setiap komponen satu persatu atau beberapa komponen secara terpadu dalam situasi pembelajaran yang disederhanakan. Dengan demikian, dalam microteaching bagian sangat penting adalah praktik mengajar sebagai bentuk nyata ditampilkannya kompetensi yang telah dibekalkan kepada calon pendidik. Pada umumnya praktik microteaching dilakukan dengan model peer-teaching (pembelajaran bersama teman sejawat), karena model ini fleksibel dilaksanakan sebelum melakukan real-teaching dalam kelas yang sesungguhnya. Dalam microteaching calon pendidik dapat berlatih unjuk kebolehan dengan kompetensi dasar mengajar secara terbatas dan secara terpadu dari beberapa kompetensi dasar mengajar dengan kompetensi (tujuan), materi, peserta didik dan waktu yang relatif dibatasi (dimikrokan).
Dari uraian-uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pengertian microteaching dalam penelitian ini merupakan sarana latihan untuk berani tampil menghadapi kelas dengan peserta didik yang beraneka ragam karakternya, mengendalikan emosi, ritme pembicaraan, mengelola kelas agar kondusif untuk proses transfer ilmu, dan lain-lain, praktik microteaching dilakukan sampai calon pendidik dianggap sudah cukup memadai untuk diterjunkan dalam praktik yang sesungguhnya.
2.    PENDEKATAN KONSTRUTIVISME
            Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.
            Pada dasarnya pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam peningkatan dan pengembangan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa berupa keterampilan dasar yang dapat diperlukan dalam pengembangan diri siswa baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.
            Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan materi yang disajikan untuk meningkatkan kemampuan siswa secara pribadi.
            Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti,serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme ,tetapi terdapat beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial);sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu (konstruktivisme individu) yang utama
a.    Konstrukstivisme Individu
Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu, kepercayaan, konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya
b.    Konstruktivisme social
Berbeda dengan Piaget,Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara sosial,yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial,alat-alat budaya,dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual.
Ciri-ciri pendekatan konstruktivisme
1.    Dengan adanya pendekatan konstruktivisme,pengembangan pengetahuan bagi peserta didik dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori.
2.    Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang ada dalam diri siswa.
3.    Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari.
4.    Peran guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai dengan materi yang dipelajari
3.    Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduktif yang kompleks,peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum kesesuatuyangkhusus.
Pendekatan deduktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan,prinsip umum dan diikuti dengan contoh contoh khusus atau penerapan aturan,prinsip umum ke dalam keadaan khusus.

3.    Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat
            Pendekatan Science,Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains,Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan  gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan proses, CBSA, Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan. (Susilo,1999). Istilah Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam bahasa Inggris disebut Sains Technology Society (STS), Science Technology Society and Environtment (STSE) atau Sains Teknologi Lingkungan dan Masyarakat. Meskipun istilahnya banyak namun sebenarnya intinya sama yaitu Environtment,yang dalam berbagai kegiatan perlu ditonjolkan. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu antara sains,teknologi,dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan dari pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan,sehingga mampu  mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah  diambilnya
            Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme,yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.

4.    Metode Pemecahan Masalah (problem solving method)
            Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekadar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulaidengan mencari data sampai pada menarik kesimpulan.
            Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh siswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencoba mengeluarkan pendapatnya.



5.     Metode diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama.
Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak:
a.     memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa
b.    memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya
c.     mendapatkan balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai
d     membantu siswa belajar berpikir secara kritis
e.    membantu siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman
f.     membantu siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran sekolah
g.    mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.
Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut:
a.    Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas.
b.    Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya, agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan.
c.    Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok.
d.    Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan.
e.    Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain.
f.     Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat.
g.    Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan.
h.    Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat.
i.     Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi.
j.     Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang.

6.  Metode Tanya Jawab
Dalam penggunaan metode mengajar di dalam kelas, tidak hanya Guru saja yang senantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah. melainkan mencakup pertanyaan pertanyaan dan penyumbang ide-ide dari pihak siswa. Cara mengajar yang serupa ini dapat dibedakan dalam dua jenis ialah : metode tanya jawab dan metode diskusi Perbedaan pokok antara kedua metode itu terletakdalam :
 1) Corak pertanvaan yang diajukan oleh Guru. Pada hakikatnya metode tanya-jawab berusaha menanyakan apakah murid telah mengtahui fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan. Dalam hal lain siswa juga bermaksud ingin mengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran murid. Melalui metode tanya-jawab Guru ingin mencari jawaban yang tepat dan faktual.
      2) Sifat pengambilan bagian yang diharapkan dari pihak siswa. Sebaliknya dengan metode diskusi, Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agak berlainan sifatnya. Di sini Guru merangsang siswa menggunakan fakta-fakta yang dipelajari untuk memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyai jawaban yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban. Dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa metode, tanya-jawab mempunyai wilayah yang saling mencakup dengan metode diskusi, sehingga kadang-kadang sukar dibedakan, apakah yang sedang dipakai oleh Guru dalam suatu kelas. Tetapi lepas dari kenyataan bahwa kedua metode ini sering sukar dibedakan, akan tetapi tujuan dan teknik masing-masing cukup mempunyai perbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogyanya dibedakan. Untuk memberikan gambaran tentang wajar atau tidaknya penggunaan metode tanya-jawab, berikut ini akan disajikan suatu kejadian dalam kelas. Dalam tiap kejadian akan diikuti dengan analisis mengenai aspek pokok pelajaran itu dan sejauh manakah kewajaran penggunaan metode tanya-jawab. Ilustrasi penggunaan metode tanya jawab di kelas
1. Melanjutkan pelajaran yang lalu
2. Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa
3. Memimpin pengamatan atau pemikiran siswa
Kelebihan metode tanya Jawab :
1. Kelas lebih aktif karena anak tidak sekedar mendengarkan saja.
2. Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya sehingga Guru mengetahui hal-hal yang belum dimengerti oleh siswa.
3. Guru dapat mengetahui sampai sejauh mana penangkapan siswa terhadap segala sesuatu yang diterangkan.
Kelemahan metode tanya Jawab:
1. Dengan tanya-jawab kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok persoalan bila dalam mengajukan pertanyaan, siswa menyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalam hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru.
2. Membutuhkan waktu lebih banyak.
7.  Metode penugasan
Pembelajaran dengan menggunakan metode penugasan berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Tugas yang diberikan guru dapat berupa masalah yang harus dipecahkan dan prosedurnya tidak diberitahukan. Metode penugasan ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, merangsang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Kekurangan metode ini terletak pada sulitnya mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri
Pemberian tugas ini merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas. Dengan banyaknya kegiatan pendidikan di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa utnuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut. Rostiyah (1991:32) menyatakan bahwa untuk mengatasi keadaan seperti diatas, guru perlu memberikan tugas-tugas diluar jam pelajaran. Sumiati Side (1984:46) menyatakan bahwa pemberian tugas-tugas berupa PR mempunyai pengaruh yang positif terhadap peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia.
Salah satu strategi belajar Bahasa Indonesiayang baik adalah memperbesar frekuensi pengulangan materi/ dengan memperbanyak latihan soal-soal sehingga menjadi suatu keterampilan yang dapat melatih diri mendayagunakan pikiran.
Tampaknya pemberian tugas kepada siswa untuk diselesaikan di rumah, di laboratorium maupun diperpustakaan cocok dalam hal ini, karena dengan tugas ini akan merangsang siswa untuk melakukan latihan-latihan atau mengulangi materi pelajaran yang baru didapat disekolah atau sekaligus mencoba ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya, serta membiasakan diri siswa mengisi waktu luangnya di luar jam pelajaran. Dengan sendirinya telah berusaha memperdalam pemahaman serta pengertian tentang materi pelajaran.
Teori Stimulus-Respon (S – R) mendukung dalam hal ini yaitu : Prinsip utama belajar adalah pengulangan. Bila S diberikan kepada obyek maka terjadilah R. Dengan latihan, asosiasi antara S dan R menjadi otomatis. Lebih sering asossosiasi antara S dan R digunakan makin kuatlah hubungan yang terjadi, makin jarang hubungan S dan R dipergunakan makin lemahlah hubungan itu (Herman Hudoyo, 1990 : 5).
Di dalam suatu kelas, tingkat kemampuan siswa cukup heterogen, sebagian dapat langsung mengeri pelajaran hanya satu kali penjelasan oleh guru, sebagian dapat mengerti bila diulangi dua atau tiga kali materinya dan sebagian lagi baru dapat mengerti setelah diulangi di rumah atau bahkan tidak dapat mengerti sama sekali.
Umumnya seorang guru mengatur kecepatan mengajarnya sesuai dengan keadaan rata-rata siswa dengan beberapa penyesuaian terhadap yang kurang mampu ataupun yang dianggap pandai. Walaupun demikian kemungkinan sebagian besar siswa cara belajarnya belum sesuai benar, bagi mereka masa belajar di kelas merupakan ajang untuk memulai materi. Pemberian tugas-tugas untuk diselesaikan di rumah, diperpustakaan maupun di laboratorium akan memberikan kesempatan untuk belajar aktif yang sesuai dengan irama kecepatan belajarnya. Hal ini merupakan pengalaman belajar yang sejati bagi individu yang bersangkutan.
8.  Metode Demonstrasi
            Ditinjau dari segi etimologi (bahasa) metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu “methodos”, yang terdiri dari kata ”metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Maka metode mempunyai arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai apa yang telah ditentukan.

            Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Metode dalam sistem pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Keberhasilan implementasi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran. Suatu strategi pembelajaran dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran.
            Metode mengajar adalah cara yang digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya pengajaran. Peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar dan mengajar. Melalui metode diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar peserta didik sehubungan dengan kegiatan mengajar guru. Terciptanya interaksi edukatif ini, guru berperan sebagai penggerak dan pembimbing. Sedangkan peserta didik berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan lebih baik jika peserta didik banyak aktif dibandingkan dengan guru. Metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar peserta didik.
            Ada beberapa metode dalam pembelajaran. Salah satu metode yang digunakan adalah metode demonstrasi. Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang sangat efektif, karena dapat membantu peserta didik untuk melihat secara langsung proses terjadinya sesuatu. Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya atau tiruan yang sering disertai penjelasan lisan.
            Metode demonstrasi adalah metode mengajar di mana seorang guru atau orang lain yang sengaja diminta peserta didik sendiri memperlihatkan kepada seluruh anak di dalam kelas, suatu kaifiyah melakukan sesuatu.
            Dari beberapa pengertian di atas disimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu metode mengajar dimana seorang guru atau orang lain bahkan murid sendiri memperlihatkan kepada seluruh kelas tentang suatu proses melakukan atau jalannya suatu proses perbuatan tertentu. Contohnya proses berwudlu.
Langkah-Langkah Metode Demonstrasi
Langkah-langkah perencanaan dan persiapan yang perlu ditempuh agar metode demonstrasi dapat dilaksanakan dengan baik adalah:
a. Perencanaan
Hal yang dilakukan adalah:
·         Merumuskan tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang diharapkan dapat ditempuh setelah metode demonstrasi berakhir.
·           Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan.
·         Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan.
    Selama demonstrasi berlangsung, seorang guru hendaknya introspeksi diri apakah:
§  Keterangan-keterangannya dapat didengar dengan jelas oleh peserta didik.
§  Semua media yang digunakan ditempatkan pada posisi yang baik sehingga setiap  peserta didik dapat melihat.
§  Peserta didik disarankan membuat catatan yang dianggap perlu.
§  Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan peserta didik.
b. Pelaksanaan
Hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
§  Memeriksa hal-hal di atas untuk kesekian kalinya.
§  Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian peserta didik.
§  Mengingat pokok-pokok materi yang akan didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai sasaran.
§  Memperhatikan keadaan peserta didik, apakah semuanya mengikuti demonstrasi dengan baik.
§  Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarnya dalam bentuk mengajukan pertanyaan.
§  Menghindari ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya selalu menciptakan suasana yang harmonis.


Senin, 05 Desember 2016

RPP KOLOID K13



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
KOLOID


 




OLEH:
Nama                     : Utami Widiyaningsih
Nim                        : ACC 114 033
Mata Kuliah         : Strategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu : 1. Dra. Ruli Meliawati, M.Pd
                                 2. Nopriawan Berkat Asi S.Si. M.Pd







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PALANGARAYA
PALANGKARARAYA
2016


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan          : SMA
Mata Pelajaran                 : Kimia
Kelas / Semester              : XI/1
Materi Pokok                   : Koloid
Sub Materi                       : Sifat-sifat koloid
Alokasi Waktu                : 1 x 15 menit

A.    Kompetensi Inti
KI 1     : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2     : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif, dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI 3     : Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni,  budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan  peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan  prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI 4     : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan  pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan





B.     Kompetensi Dasar
1.1       Menyadari adanya keteraturan dari sifat koloid sebagai wujud kebesaran Tuhan YME dan pengetahuan tentang adanya keteraturan tersebut sebagai hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentatif.
Indikator :
1.1.1        Mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
1.1.2        Menyadari bahwa ketentuan yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa adalah yang terbaik bagi kita

2.2         Menunjukkan perilaku kerjasama, santun, toleran, cinta damai dan peduli lingkungan serta hemat dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Indikator :
2.2.1        Menunjukkan sikap kerjasama, santun, toleran, dan peduli lingkungan selama mengerjakan lembar kerja yang diberikan

3.15   Menganalisis peran koloid dalam kehidupan berdasarkan sifat-sifatnya
Indikator:
3.15.1    Menyebutkan sifat-sifat koloid
3.15.2 Menerangkan aplikasi sifat-sifat dalam kehidupan sehari-hari


C.    Tujuan Pembelajaran
1.      Siswa mampu menjelaskan pengertian koloid dan membedakannya dengan larutan dan suspensi
2.      Siswa mampu menyebutkan sifat-sifat koloid serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari

D.    Materi Pelajaran
Materi Prasyarat: Pengertian Larutan
Materi Pokok: Sifat-sifat Koloid
Koloid adalah campuran zat heterogen antara dua zat atau lebih dimana partikel-partikel zat koloid tersebar merata dalam zat lain. Istilah koloid berasal dari kata "kolia" dalam bahasa yunani berarti "lem". Koloid sendiri diperkenalkan pada tahun 1861 oleh Thomas Graham. Dari hasil pengamatannya mengenai gelatin yang merupakan kristal yang sukar mengalami difusi, padahal umumnya kristal itu mudah mengalami difusi. Sehingga zat semacam gelatin tersebut dinamakan koloid. Pengertian Koloid atau disebut dispersi koloid atau sistem koloid adalah sistem dispersi yang memiliki ukuran partikel lebih besar dari larutan, tetapi lebih kecil daripada suspensi. Umumnya koloid mempunyai ukuran partikel sekitar 1 nm-100 nm. 
Perbedaan Larutan Koloid dan Suspensi
perbedaan.png
            Sistem koloid mempunyai sifat khas, yang berbeda dengan sifat pada sistem dispersi lainnya. Sifat-sifat koloid adalah Efek Tyndall, Gerak Brown, Adsorpsi, dan Koagulasi.
1. Efek Tyndall
            Efek Tyndall adalah terhamburnya cahaya oleh partikel koloid.  Bila seberkas sinar dilewatkan pada supspensi (dispersi pasir dalam air),  koloid (air teh), dan larutan (gula dalam air), dan dilihat tegak lurus dari arah datangnya cahaya maka lintasan cahaya akan terlihat jejaknya pada suspensi dan koloid, sedangkan larutan tidak akan tampak sama sekali. Terlihatnya lintasan cahaya ini disebabkan cahaya yang dihamburkan oleh partikel-partikelnya dimana pada saat itu melewati suspensi atau koloid, sedangkan pada larutan tidak. Partikel koloid dan suspensinya cukup besar untuk dapat menghamburkan sinar, sedangkan partikel-partikel larutan berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat menghamburkan cahaya.
Penerapan Efek Tyndall kehidupan sehari-hari. Contoh Efek Tyndall adalah sebagai berikut:
·         Sorot lampu mobil atau senter di udara berkabut
·         Pada sore hari munculnya warna biru dan jingga
·         Sinar matahari melalui celah-celah dari daun pada waktu pagi hari
2. Gerak Brown
            Gerak Brown adalah gerakan partikel koloid dengan lintasan lurus dan arah yang acak. Apabila dispersi koloid diamati dibawah mikroskop dengan menggunakan pembesaran tinggi, akan terlihat adanya partikel yang bergerak dengan arah yang acak atau tidak beraturan, gerakan-gerakan tersebut mempunyai lintasan lurus. Gerak Brown terjadi akibat adanya tumbukan partikel-partikel pendispersi terhadap partikel terdispersi, sehingga partikel terdispersi akan terlontar. Lontaran tersebut akan mengakibatkan partikel terdispersi menumbuk partikel terdispersi yang lain dan akibatnya partikel yang tertumbuk akan terlontar. Kejadian tersebut berulang secara terus-menerus, dan itu terjadi akibat ukuran partikel terdispersi yang relatif besar dibanding medium pendispersinya. Adapun gerak Brown ini mengakibatkan partikel-partikel koloid relatif stabil meskipun ukuran yang relatif besar, sebab dengan adanya partikel yang bergerak secara terus menerus, pengaruh dari gaya gravitasi kurang berarti. Penerapan Gerak Brown dalam kehidupan sehari-hari. Contoh Gerak Brown adalah Susu
3. Adsorpsi
            Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan muatan oleh permukaan-permukaan partikel koloid. Adsorpsi dapat terjadi karena adanya kemampuan pada partikel koloid untuk menarik (ditempeli) oleh partikel-partikel kecil. Kemampuan menarik tersebut, dapat terjadi karena disebabkanya adanya tegangan permukaan koloid yang cukup tinggi, sehingga bila ada partikel yang menempel akan cenderung dipertahankan pada permukaannya. Bila partikel-partikel koloid mengadsorbsi ion yang bermuatan positif pada permukaannya maka koloid kana menjadi bermuatan positif, dan sebaliknya bila yang diadsorbsi ion negatif akan menjadi bermuatan negatif.  Selain dari ion, partikel-partikel koloid dapat menyerap muatan dari listrik statis, misalnya debu dapat menyerap muatan negatif atau positif dari adanya elektron yang berak di udara atau dari arus listrik. Dari adanya peristiwa adsorpsi partikel koloid yang bermuatan listrik, maka jika koloid tersebut diletakkan dalam medan listrik partikelnya akan bergerak menuju kutub yang bermuatan listrik yang berlawanan dengan muatan koloid.
Penerapan Adsorpsi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh Adsorpsi adalah sebagai berikut:
·         Penjernihan air dengan menggunakan tawas
·         Penjernihan air tebu dalam pembuatan gula
·         Penyembuhan sakit perut dengan norit akibat dari bakteri patogen
·         Pencelupan serat wol pada proses pewarnaan
4. Koagulasi
          Koagulasi adalah peristiwa penggumpalan partikel koloid. Peristiwa koagulasi pada koloid dapat terjadi diakibatkan oleh peristiwa mekanis atau peristiwa kimia. Peristiwa mekanis misalnya pemanasan atau pendinginan. Darah merupakan sol butir-butir darah merah yang terdispersi dalam plasma darah, bila dipanaskan akan menggumpal, sedangkan agar-agar akan mengumpal bila didinginkan. Peristiwa kimia yang dapat menyebabkan terjadinya koagulasi.
            Pencampuran Koloid yang Berbeda Muatan. Bila sistem koloid yang berbeda muatan dicampurkan akan terjadi koagulasi dan akhirnya mengendap. Misalnya sol Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan mengalami koagulasi bila dicampur sol As2S3. Dengan adanya peristiwa tersebut maka bila anda mempunyai tinta dari merek yang berbeda, yang satu merupakan koloid negatif dan yang lain merupakan koloid positif, jangan sampai dicampurkan karena akan dapat terkoagulasi.
    Adanya Elektrolit. Bila koloid yang bermuatan positif dicampurkan dengan suatu larutan elektrolit maka ion-ion negatif dari larutan elektrolit tersebut akan segera ditarik oleh partikel-partikel koloid tersebut, dan akibatnya ukuran koloid menjadi sangat besar dan akan mengalami koagulasi. Sebaliknya, koloid negatif akan menyerap ion-ion positif dari suatu larutan elektrolit. Penerapan Koagulasi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh koagulasi adalah sebagai beirkut :
·         Penjernihan air
·         Proses penggumpalan debu atau asap pabrik
·         Pengolahan karet dengan lateks
·         Pembentukan delta di muara
·         Proses penetralan partikel albuminoid dalam darah oleh ion Fe3 + atau Al3+
5. Elektroforesis
            Elektroforesis adalah Peristiwa bergeraknya partikel koloid dalam medan listrik. Manfaat Elektroforesis ini ada pada proses pemisahan potongan-potongan gen pada proses bioteknologi, penyaringan debu pabrik pada cerobong asap yang disebut dengan pesawat cottrel. Koloid logam atau basa umumnya mengadsorbsi ion-ion logam pada saat proses pembentuk sehingga akan menjadi bermuatan positif. As2S3 dan kelompok koloid sulfida lainnya, dimana pada umumnya mengadsorbsi ion negatif, sehingga akan menjadi koloid negatif. Penerapan Elektroforesis dalam kehidupan sehari-hari. Contoh Elektroforesis adalah sebagai berikut :
·         Identifikasi DNA
·         Mendeteksi kelainan genetic
·         Proses penyaringan debu pabrik
6. Koloid Pelindung
            Koloid pelindung adalah koloid yang ditambahkan ke dalam sistem koloid agar menjadi stabil. Misalnya penambahan gelatin pada pembuatan es krim dimaksudkan agar es krim tidak dapat memisah sehingga tetap terus kenyal, serta penambahan gum arab dalam pembuatan semir dan lain-lainnya.
Penerapan Koloid Pelindung dalam kehidupan sehari-hari. Contoh Koloid Pelindung adalah sebagai berikut :
·         Penambahan minyak silikon pada cat
·         Penambahan kasein pada susu
·         Penambahan gelatin pada es krim
·         Penambahan lestin pada margarin
7. Dialisis
            Dialisis adalah menghilangkan muatan koloid dengan cara memasukkan koloid ke dalam membran semipermeabel dengan cara memasukkan koloid ke dalam membran semipermeabel. Membran ini mempunyai pori-pori yang mampu ditembus oleh ion, tetapi tidak mampu ditembus partikel koloid. Bila kantong semipermeabel tersebut dimasukkan ke dalam aliran air, maka ion-ion yang keluar dari membran semipermeabel akan terbawa aliran air, sedangkan koloidnya masih tetap di dalam kantung semipermeabel. Penerapan Dialisis dalam kehidupan sehari-hari. Contoh Dialisis adalah sebagai berikut :
·         Proses cuci darah
·         Memisahkan ion-ion sianida dan tepung tapioka



E.     Strategi Pembelajaran
Pendekatan       : Saintifik
Model                : STAD
Metode              : Ceramah dan diskusi

F.     Media Dan Sumber Pembelajaran
·         Media    : whiteboard, spidol, laptop, LCD, LKS
·         Sumber  : a.   Buku kimia 2: untuk SMA/MA kelas XI, penulis Ari Harnanto dan        Ruminten: Depdiknas
b.    Buku kimia: SMA/MA kelas XI, penulis Shidiq Premono, Anis Wardani dan Nur Hidayati: Depdiknas

G.    Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan
Aktivitas
Alokasi waktu
Guru
Siswa
Pendahuluan
·    Guru memberikan salam
·    Guru mempersilahkan salah satu siswa memimpin doa
·    Guru memeriksa kehadiran siswa
Apersepsi
·    Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk mengingat kembali materi sebelumnya tentang pengertian larutan
·    Guru menginformasikan materi yang akan disampaikan
Motivasi
·    Guru memotivasi siswa dengan memperlihatkan gambar air sirup, air susu dan air kopi, kemudian menggolongkan masing-masing kedalam larutan, koloid dan suspensi.
·    Guru menanyakan mengapa air susu merupakan koloid? Padahal secara kasat mata air susu terlihat homogen. Mengapa demikian?

·    Guru menyampaikan tujuan dari pembelajaran
·    Siswa menjawab salam
·    Siswa memimpin doa

·     Siswa menjawab dan mengangkat tangan

·     Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru


·     Siswa mendengarkan informasi yang disampaikan oleh guru

·     Siswa memperhatikan gambar yang diperlihatkan guru






·     Siswa mulai berpikir dan menjawab pertanyaan tersebut sesuai pengetahuan masing-masing siswa.


·     Siswa mendengarkan tujuan yang disampaikan
3 menit
Inti
·    Guru menyajikan atau memberikan materi tentang sistem koloid dan sifat-sifat koloid serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
·    Guru membagi siswa kedalam kelompok dan per kelompok berisikan anggota 4 orang
·    Guru memberikan lembar kerja kepada siswa untuk didiskusikan
·    Guru memantau diskusi ssiswa dan memberikan arahan kepada siswa

·      Siswa mendengarkan dna menyimak materi yang disampaikan guru



·      Siswa berkumpul bersama kelompoknya masing-masing

·      Siswa berdiskusi dan mengerjakan lembar kerja yang diberikan

10 menit
Penutup
·    Guru meminta siswa untuk menyimpulkan hasil diskusi dan meminta perwakilan kelompok untuk menyampaikan kesimpulan kelompoknya
·    Guru menegaskan dan menyempurnakan kesimpulan
·    Guru memberikan evaluasi untuk siswa untuk dijadikan tugas dirumah

·    Guru mengakhiri pembelajaran dan mengucapkan salam penutup
·         Siswa menyimpulkan hasil praktikum dan salah satu perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusi kelompok

·      Siswa mendengarkan kesimpulan yang disampaikan
·      Siswa menerima soal evaluasi


·      Siswa menjawab salam
2 menit

H.    Penilaian
No
Aspek
Mekanisme dan Prosedur
Instrumen
Keterangan
1.
Sikap
- Non Tes
Lembar    Diskusi

2.
Pengetahuan
- Penugasan Tes Tertulis
Soal Evaluasi
(Tes Pilihan Ganda)
Rubrik Penilaian








Palangkaraya,   November 2016
Kepala Sekolah                                                           Guru Mata Pelajaran KIMIA                         


















LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
SISTEM KOLOID
Kelas               : ...................................................
Kelompok      : ...................................................
Nama                          : 1. ...............................................
2. ...............................................
3. ...............................................
4. ...............................................
5. ...............................................

A.    Cocokkan gambar aplikasi di bawah ini dengan sifat-sifat koloid !
a.                                                                        









Text Box: a. Koagulasi

b. Koloid Pelindung

c. Efek Tyndall

d. Gerak Brown





 

b.       



c.        


           
d.       




B.     Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar !
1.       Bagaimana kita dapat membedakan sistem koloid dari suatu larutan dan suspensi ?
2.       a.    Apa yang dimaksud dengan gerak Brown ?
b.      Mengapa gerak Brown dari partikel koloid membentuk garis zigzag ?
c.       Jelaskan peranan gerak Brown terhadap kestabilan koloid.
3.       a.  Apa yang dimaksud dengan koagulasi ?
b.    Sebutkan 3 cara yang dapat membuat sistem koloid terkoagulasi.
c.     Mengapa minyak yang melekat pada pakaian dapat dihilangkan dengan           menggunakan detergen ?
4.    Seorang murid bercita-cita menjadi ahli kimia di perusahaan kosmetika. Ia pun disarankan  untuk memahami dengan seksama sistem koloid. Mengapa demikian ?
5.    a. Beri sebuah contoh aplikasi sistem koloid yang menggunakan sifat adsorbsi dan             berikan penjelasannya.
            b. Beri 3 contoh dan jelaskan masing-masing aplikasi/fenomena sistem koloid yang            menggunakan sifat koagulasi.









LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
SISTEM KOLOID
Kelas               : ...................................................
Kelompok      : ...................................................
Nama                          : 1. ...............................................
2. ...............................................
3. ...............................................
4. ...............................................
5. ...............................................

C.     Cocokkan gambar aplikasi di bawah ini dengan sifat-sifat koloid !
e.                                                                        









Text Box: e. Koagulasi

f. Koloid Pelindung

g. Efek Tyndall

h. Gerak Brown





 

f.        



g.       


           
h.       




D.    Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar !
4.       Bagaimana kita dapat membedakan sistem koloid dari suatu larutan dan suspensi ?
5.       a.    Apa yang dimaksud dengan gerak Brown ?
d.      Mengapa gerak Brown dari partikel koloid membentuk garis zigzag ?
e.       Jelaskan peranan gerak Brown terhadap kestabilan koloid.
6.       a.  Apa yang dimaksud dengan koagulasi ?
b.    Sebutkan 3 cara yang dapat membuat sistem koloid terkoagulasi.
c.     Mengapa minyak yang melekat pada pakaian dapat dihilangkan dengan           menggunakan detergen ?
4.    Seorang murid bercita-cita menjadi ahli kimia di perusahaan kosmetika. Ia pun disarankan  untuk memahami dengan seksama sistem koloid. Mengapa demikian ?
5.    a. Beri sebuah contoh aplikasi sistem koloid yang menggunakan sifat adsorbsi dan             berikan penjelasannya.
            b. Beri 3 contoh dan jelaskan masing-masing aplikasi/fenomena sistem koloid yang            menggunakan sifat koagulasi.